SEARCH

About Me

Naraituh adalah blog yang berkonsentrasi tentang dunia pariwisata di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, yang bertujuan untuk mempromosikan wisata kalimantan Selatan dan tengah pada umumnya dan Kabupaten Murung Raya Khususnya kepada dunia luar dengan media online yang mana selama ini masih kurang dipromosikan sehingga para calon pelancong kurang mengetahuinya sebagai tujuan kunjungan wisata, padahal murung raya sendiri kalau dibandingkan dengan daerah lain tidak kalah indah dan lengkapnya, dari wisata budaya suku Dayak yang bermacam-macam kebudayaan uniknya yang hanya ada di pulau kalimantan,.....read more

Tuesday, December 11, 2012

Menembus Rimba Kalimantan Dengan Motor Trail

Akhirnya hasrat yang sejak lama terpendam tersalurkan juga, motor trail yang sudah hampir setahun menemani saya akhirnya menemukan habitatnya. Semua berawat dari pertemuan dengan Andut yang memakai KLX ketika penyembelihan hewan kurban didepan rumah, dan malamnya ketika sedang bekerja tiba-tiba saya di sms bahwa besok mereka akan touring.
Tanpa persiapan akhirnya saya iyakan untuk ikut, besok paginya sepulangnya dari bekerja saya langsung menuju meeting poin.  Ternyata sudah ada beberapa orang yang berkumpul, setelah semuanya siap kitapun langsung berangkat. Total ada 12 motor trail yang berangkat, 11 diantaranya adalah Kawasaki KLX dan satunya adalah Yamaha RX King yang sudah dimodifikasi dengan dua orang ridernya merangkap cameramen. 
Kita berangkat dari bengkelnya viktor menyusuri jalan beraspal sedikit rusak mengarah ke Konut, hingga melewati Saripoi jalur yang dilalui masih merupakan jalan umum sehingga agak membosankan.
Dan ketika memasuki jalan perusahaan kayu kita bisa membetot gas sepuasnya, namun kita harus hati-hati karena di jalan peruhaan kayu seperti ini kita tidak berjalan di sisi kiri jalan seperti jalan umum biasanya, kita harus mengikuti rambu disebelah mana kita berjalan, kadang disebelah kiri dan kadang disebelah kanan. Selain itu kita juga harus berhati-hati ketika ketika bertemu dengan mobil pengangkut kayu yang kadang-kadang lewat dengan muatan gelondongan kayu sebesar drum kecil dibelakangnya.
Walau bisa menarik gas sepuasnya namun saya juga harus tetap menjaga jarak, karena beberapa kali batu terbang dari motor didepan, bahkan salah satunya menyenai muka saya, untung gak benjol. Ketika sedang asik-asiknya ngebut ternyata rombongankita terpisah, setelah ditunggu rombongan di belakang tidak muncul-muncul akhirnya  kita berbalik arah dan ternyata memang ada masalah, salah satu ban teman kita ada yang bocor dan akhirnya kita harus membuka bengkel ditengah hutan.
Setelah ganti ban dalam kita kembali melanjutkan perjalanan, kita juga melewati sebuah desa yang tampaknya akan mengadakan upacara adat “Wara”, hampir semua rumah memasang bendera dari kain di depan rumah mereka.
Setelah keluar dari jalan perusahaan kayu kita memasuki jalan tanah, walau masih jalan punya perusahaan kayu namun jalannya full tanah, kita kembali speed offorad di jalan yang luas. Ada juga yang atraksi dengan sengaja naik ke tebing, saya juga ikut atraksi dengan sedikit nyasar keluar jalur karena mengikuti motor didepan yang juga keluar jalur.
Kita beristirahat sebentar di tempat yang cukup teduh setelah sebelumnya sempat nyasar salah ngambil jalan ke camp perusahaan kayu, kembali speed offroad karena jalurnya memang mendukung dan lumayan memacu adrenalin. 
Setelah menuruni turunan panjang yang miringnya hampir 45 derajat kita sampai di camp PT. Barito Putra dan disini kita kembali beristirahat sambil makan siang di tepi sungai yang jernih dengan pemandangan jembatan yang semuanya terbuat dari kayu gelondongan.
Ketika akan berangkat ternyata motor teman yang tadi kembali bocor bannya, sambil menunggu teman yang bawa pompa kembali ban pun dibongkar, ternyata ban dalamnya terlipat karena ukurannya yang lebih besar sehingga mengakibatkan kebocoran di lipatanya. Setelah ban dalam kembali diganti kita kembali melanjutkan perjalanan.
Jalur yang kita lalui sekarang menjadi jalanan keras berbatu yang banyak bekas aliran air hujan di tengahnya, namun kita tetap memacu motor dengan kencang.  Kita juga memasuki jalan single track yang tampaknya baru sehabis didozer, disini barulah ofroadnya baru terasa, beberapa kali kali saya hampir kehilanagn keseimbangan namun untungnya masih bisa mengendalikan motor.
Mengikuti teman-teman yang sudah berpengalaman merupakan moment yang paling mengasyikan di single track seperti ini, apalagi yang memimpin adalah KLX 250 yang dibetot lumayan kencang. Beberapa kali kita berhenti untuk bertanya jalan kepada penduduk yang lewat karena belum ada yang pernah melalui jalur ini sebelumnya.
Bahkan knalpot salah satu motor menjadi korban juga, sambungan di bagiannya depannya hampir terlepas. Ketika sementara diikat dengan tali tiba-tiba jalan ikatan tadi mengeluarkan asap karena talinya tidak tahan panas. Ketika singgah di sebuah dusun kecil ikatan diganti dangan kawal yang lebih kuat.
Sebelum memasuki desa Batu Karang jalurnya benar-benar single track melalui jalan setapak yang kiri kanannya semak belukar, hingga akhintnya setelah melalui jembatan kayu tiba masuk juga ke Desa Batu Karang dan sambil menunggu teman ada yang diurus di rumah kepala desa kita beristirahat di sebuah warung.
Karena Desa Batu Bua masih sekitar 8 km lagi kita hanya beristirahat sebentar disini dan kembali melanjutkan perjalanan. Dari sini jalurnya kembali single track, dibeberapa tempat kita melalui jalan yang dibuat jembatan dari kayu karena jalan tanah ini ketika hujan akan menjadi licin. Akhirnya kitra sampai juga di desa Batu Bua, desa ini lumayan besar dan rame. Tujuan kita ada tentunya adalah warung makan karena ada yang sakau sama es dan nasi..:-)
Selepas dari Batu Bua kita melewati jalan perusaan batu bara yang debunya bukan main banyaknya, awal-awal saya langsung nambil posisi didepan supaya terhindar dari debu namun ternyata teman yang lain juga berfikiran sama sehingga banyak yang menyusul. Hingga akhirnya saya mengalah dan memilih menjauh supaya agak berkurang debunya.
Ketika sampai di simpang ke arah Muara Laung kita saling menertawakan melihat muka yang penuh debu, di sini kita berhenti agak lama karena menunggu dua orang kawan yang terlewat karena keasikan memutar gas.
Jalan menuju desa Muara Laung 2 berupa double track namun perti umunnya jalan yang jarang dilalui medannya banyak batu-batu dan tanah merah. Tragedy ban bocor kembali terjadi ban depan salah satu teman menabrak batu sehingga velgnya sedikit bengkok. Kembali kita buka buka bengkel di tengan hutan. Rombongan kita kembali terbagi dua dan sebagian menunggu di Muara laung.
Ternyata tak lama setelah kita melanjutkan perjalanan kita sudah tiba di Muara Laung II, dan langsung menuju ke penyebrangan karena kita akan meyebrangkan motor dengan kapal menuju desa Muara Laung I.
Hari mulai gelap ketika kita kita meninggalkan desa Muara Laung, jalur sampai pertigaan jalan Negara sudah lumayan enak, bahkan sebagian sudah diperbaiki oleh perusahaan Batu Bara yang menggunakannya juga. Sambil menuggu rombongan lain kita beristirahat di di pertigaan jalan besar dan setelah semua datang kita bersama-sama kembali ke kota Puruk Cahu dan kembali kerumah masing-masing.
Touring offroad pertama saya bersama Komunitas Trail Adventure Murung Raya merupakan pengalaman yang terlupakan bagi saya, senang akhirnya keinginal yang sejak lama hanya melihat di televisi akhirnya terkabulkan juga. Semoga ini menjadi awal petualangan saya selanjutnya bersama offroader Murung Raya.
Lanjutkan Baca - Menembus Rimba Kalimantan Dengan Motor Trail

Air Terjun Manimang, Datah Kotou

Sebagai daerah pegunungan cukup wajar daerah Murung Raya mempunyai banyak air terjun, namun karena aksesnya yang serba susah dan jauh makanya banyak yang tidak terekspos, namun ada beberapa yang tidak begitu jauh dari kota Puruk Cahu, salah satunya adalah Air Terjun Manimang yang saya lalui setiap hari ketika berangkat kerja.
Air terjun ini hanya berjarak sekitar 15 km dari ibu kota Kabupaten, kalau menuju Desa Mangkahui dari Puruk Cahu maka akan melewati Air Terjun ini sebelum desa Datah Koto, dari tepi jalan besar hanya sekitar 200 meter melewati jalan setapak, namun sayangnya tidak ada papan nama membuat orang yang tidak pernah kesini susah untuk menemukannya.
Air Terjun Manimang jadi Kopi Susu
Air terjunnya tidak terlalu tinggi namun bertingkat, di bagian atas hanya berupa seluncuran yang berair deras sehingga tempat ini tempat yang pas buat bermain-main seluncuran, rasakan sensasinya tanpa harus bermahal-mahal untuk masuk ke Water Boom.
Namun karena keasikan bermain seluncuran tragedy hilangnya kacamata terjadi ketika kemping ceria bersama guru-guru dan murid kelas X MAN Puruk Cahu, ketika sedang asik-asiknya bermain seluncuran salah satu guru kehilangan kacamatanya, kitapun beramai-ramai untuk mencarinya namun tertap saja tidak ketemu karena setelah seluncuran tadi langsung mengarah ke palung yang agak dalam.
Tingkatan terakhir
Tingkat kedua sedikit lebih tinggi sekitar 10 meter ini yang menjadi tempat utama air terjun ini, di depannya cukup landai sehingga bisa untuk kemping dan masak-masak. Kembali ke alam dengan makan di hutan dengan pemandangan air terjun merupakan kenikmatan tersendiri, ditambah lagi dengan kebersamaannya yang sangat terasa, seperti makan bersama dalam satu wadah. Namun ketika airnya sedang banyak-banyaknya batu-batunya tertutup oleh air yang mengalir sehingga tidak bisa untuk duduk-duduk di atas batu.
Dan tingkatan terakhir inilah yang menurut saya yang benar-benar air terjun karena airnya memang jatuh langsung kebawah. Walau hanya sekitar 3 meter namun airnya terjun dengan bebasnya, di bawahnya kita bisa berlindung tanpa terkena air. Berjalan semakin kehilir sungainya mengalir deras diantara bebatuan sehingga menimbulkan harmoni alam yang benar-benar indah.
Bakar ikan
Sebenarnya fasilitas disini cukup lengkap, seperti gazebo tempat peristirahatan yang telah dibangun oleh pemerintah, ada juga kamar ganti dan toilet yang tidak terawatt dan penuh vandalisme hasil  ekspresi orang-orang salah tempat.
Setiap hari minggu sepertinya ada saja orang yang datang ke tempat ini entah untuk bersantai atau untuk pacaran,namun puncaknya ketika hari raya lebaran maupun kurban tempat ini akan penuh oleh kerumunan manusia dari murung raya dan sekitarnya.


Dua foto dalam satu tempat di waktu yang berbeda
Namun jangan datang ke tempat ini setelah hujan lebat yang lumayan lama, karena airnya akan berubah mencadi coklat seperti kopi susu, sehingga menghilangkan hasrat untuk mandi. Walaupun nekad mandi pasti bukan kesegaran yang akan didapat namun badan yang makin kotor.
Lanjutkan Baca - Air Terjun Manimang, Datah Kotou

[Foto] Lampok dan Tempoyak, Cara Lain Menikmati Durian




Murung Raya kebanjiran durian ketika musimnya tiba, saking banyaknya satu biji hanya dihargai sampai Rp. 2.500, selain dimakan langsung masyarakat juga mengolahnya kedalam bentuk lain. Yang paling umun adalah dijadikan yang penganan yang namanya “Lampok” dan “Tempuyak”.


Untuk membuat Tempuyak cukup mudah, hanya dikupas dari bijinya kemudian daging durian tersebut ditempatkan dalam wadah khusus, makin lama makin enak rasanya. Cara penyajiannya bisa langsung sebagai lauk ketika makan ataupun dengan dioseng dengan sayuran lain sesuai kreatifitas.


Sedangkan pengolahan Lampok lebih membutuhkan “kerja keras”, setelah dikupas dari dari bijinya kemudian dagingnya dimasukan kedalam “Kawah” atau wajan besar kemudian terus diaduk-aduk tanpa berhenti  sampai kurang lebih 4 jam, ketika daging durian yang asalnya berwarna putih berubah menjadi coklat itu artinya Lampok sudah jadi dan masak.


Untuk satu “Kawah” atau wajan bisa sampai satu kaleng besar  bekas minyak goreng, cukup ditambah dengan sedikit gula dan garam sebagai bumbunya. Api yang berbahan kayu bakar harus selalu terjaga jangan sampai telalu kecil ataupun terlalu besar.


Biji hasil kupasan durian tadi masih bisa dimanfaatkan. Dengan direbus bisa dijadikan penganan yang gurih, dinikmati dengan secangkir kopi di pagi hari nikmatnya bukan main. Selain itu bisa dijadikan bahan untuk permainan, ketika kecil dulu biji durian ujungnya kita lobangi kemudian diatasnya kita tancapkan sejenis “Taji”. Cara mainnya salah satu biji durian menunggu di atas tanah dan biji durian lainya yang memecahkannya dengan cara dibenturkan dari atas. Namun sekarang tak terlihat lagi anak-anak memainkannya.
Eh, kulit durian juga bisa dimanfaatkan loh, buat garuk belakang kalau gatal..:-) 
Lanjutkan Baca - [Foto] Lampok dan Tempoyak, Cara Lain Menikmati Durian

Ketika Traveling Berubah Menjadi Bencana


Tahun lalu, Ketika mendengar akan ada acara Aruh Ganal di Loksado teman-teman Backpacker di Banjarmasin segera menyusun rencana untuk pergi melihat acara syukuran ala suku Dayak Maratus sehabis panen ini. Acara ini biasanya diadakan tiga kali dalam setahun, dan sebelumnya saya selalu gagal untuk ke Loksado karena selau ada saja halangannya.
Awalnya kita berencana untuk naik motor menuju Loksado, namun ketika teman ada yang mengajak kita naik mobil dan hanya urunan untuk beli bensinnya kitapun setuju untuk bergabung, total ada dua mobil yang akan berangkat namun kita berangkatnya tidak bersamaan karena rombongan yang satunya beragkat dari kota Banjarbaru sedangkan kita dari Banjarmasin.
Dari rencana semula berangkat pukul satu siang akhirnya pukul 3 sore barulah kita meninggalkan Banjarmasin. Teman saya meyetir agak ngebut, berkali-kali kita mendahului mobil yang ada didepan kita hingga akhirnya kurang dari tiga jam kita telah tiba di kota Kandangan.
Gerimis mulai turun ketika kita mampir di sebuah warung sea food untuk makan malam, sampai ketika kita meninggalkan Kota Kandangan menuju Loksado hujan masih mengiringi kepergian kita, rencanannya akan ada teman yang dari Batulicin yang akan bergabung dan telah tiba di sore tadi dan menunggu di persimpangan di ke arah Batulicin.
Setelah ditunggu beberapa lama di masjid satu teman ini tidak juga kelihatan batang hidungnya, ditanyakan ke warga sekitar juga tidak ada yang liat, dihubungi hpnya juga tidak aktif, akhirnya kita melanjutkan perjalanan tanpa dia karena malam sudah semakin larut.
Jalanan menuju Lokasado memang sudah lumayan mulus, namun medannya naik turun tanjakan dan berkelok-kelok seperti jalan di pegunungan pada umumnya, ketika sedang asyik-asyiknya mengirim lagu ke hp teman teman lewat Bluetooth tiba-tiba ban belakang berdecit dengan keras keluar jalur..
Selanjutnya keadaan menjadi gelap, mobil penuh teriakan, yang terasa hanya bagai diaduk-aduk dalam sebuah penggilingan hanya bisa berdoa semoga mobil ini berhenti berguling . Ketika sadar Mobil kami terguling ke dalam jurang hingga beberapa kali sampai akhirnya tertahan di sebuah pohon sawit.
Tidak jelas lagi susunan orang-orang di dalam mobil, semuanya saling tumbang tindih karena memang tidak ada yang pakai seat belt. Posisi mobil kami miring ke kiri dengan bagian bawahnya tersangkut di pohon sawit penyelamat, untungnya kita kaca sebelah kiri yang berada di bagian bawah terbuka dan kita bisa keluar satu-satu.
Setelah semua orang keluar Alhamdulillah tidak satupun yang terluka, sungguh ajaib melihat keadaan mobil yang cukup ringsek dan lokasi kita jatuh. Satu persatu kita merangkak menaiki tebing kembali menuju jalan raya.

Penampakan Mobil Kami
Dengan badan masih gemetaran karena hampir saja nyawa hampir melayang kita memanggil orang yang lewat untuk meminta pertolongan, ketika melihat ke bawah kita merasa sunggu berutung karena ada pohon sawit itu, kalau tidak niscaya kita langsung masuk kedalam sungai.
Untungnya daerah ini masih terjangkau sinyal, setelah mencari-cari hp di dasar mobil yang terlepas ketika kejadian tadi kita segera mengabari teman-teman yang terlebih dahulu sampai di Loksado.
Setelah dipikirkan akhirnya kita memutuskan untuk mengevakuasi mobil besok hari karena sangat tidak memungkinkan untuk melakukannya dimalam hari. Kita membayar 2 orang penduduk sekitar untuk menjaga mobil ini, seperti biasa di Indonesia banyak berkumpul untuk menonton di tempat kecelakaan ini.
Sebagian naik ikut mobil teman yang kembali dan sebagian ikut teman-teman dari Meratus hijau yang juga datang ke tempat kejadian. Saya ikut dengan Nandang naik motornya, ternyata di lokasi ini telah terjadi juga beberapa kali kecelakaan sebelumnya, yang pertama fortuner, lalu mobil truk tentara yang kemudian juga masuk hingga kesungai. Lokasinya memang rawan kecelakaan bagi yang kurang hapal dengan medan, setelah turunan  langsung tikungan tajam dan jembatan besi.
Cerita mistis juga sering terdengan di jembatan ini, ada yang katanya melihat ada cewek baju putih berambut panjang duduk di atas pagar jembatan dan kejadian aneh lainnya atau suara-suara aneh ketika lewat disana. Entah ada kaitannya atau tidak dengan kecelakaan ini tergantung kepercayaan saja.
Di rumah seorang teman di Desa Loksado kita berkumpul dengan teman-teman yang terlebih dahulu datang, dan ternyata teman yang kita tunggu tadi sudah berada disini juga. Sebagian dan termasuk saya segera mencari tukang pijit karena baru terasa badan pegal-pegal.
Malamnya kita langsung menuju desa Malaris dan bermalam di Balai Adat tempat dilangsungkannya upacara Aruh Ganal yang diadakan semalam suntuk, namun berkat kecelakaan yang kita alami tadi tidak ada yang benar-benar enjoy untuk menikmati acara ini walaupun masih sempat foto-foto, selain karena badan terasa remuk juga karena memikirkan mobil penyok yang ternyata juga rentalan dari kantor teman tadi.
Pagi harinya sebagian turun untuk mengevakuasi mobil dan yang menunggu di Loksadopun tidak semangat lagi untuk melakukan kegiatanyang sebelumnya direncanakan, kita hanya duduk-duduk sambil menunggu kedatangan teman yang lain.
Akhirnya mobil avanza itu datang dengan keadaannya yang ringsek dan untungnya masinnya tetap utuh hanya di bagian kirinya saja yang hancur dan atapnya yang ringsek sehingga masih bisa digunakan untuk kembali ke Banjarmasin. Namun kita harus mengambil jalan pintas dan tidak lewat jalan besar untuk menghindari Polisi.
Akhirnya sampai kembali di rumah dengan selamat walaupun badan rasanya tak kuat lagi untuk beraktifitas dan kasur merupakan tempat yang paling nyaman untuk beristirahat.
Jalan-jalan tidak selamanya selalu berakhir bahagia, ada juga suatu waktu kita harus mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan seperti kehilangan atau bahkan sesuatu yang lebih mengerikan seperti kejadian ini. Semuanya tergantung bagaimana kita menyikapinya dan menyelesaikannya. Dan menjadikan kejadian ini sbagai suatu pelajaran untuk masa depan. Thanks God for Saving Us.

Nb: Foto-foto menyusul, soalnya harddisk eksternal masih rusak..:-(
Lanjutkan Baca - Ketika Traveling Berubah Menjadi Bencana

Saturday, August 11, 2012

Gunung Usung, Mendaki Berbonus Air Terjun


Berangkat agak terlambat dari jadwal semula kita bertiga menuju Gunung Usung yang hanya berjarak beberapa puluh Kilometer dari Kota Puruk Cahu, ternyata di tempat sebelum memulai pandakian sudah beberapa orang menunggu, hingga totalnya ada 7 orang yang akan mendaki hari ini, saya dan 6 orang murid Kelas XI MAN Puruk Cahu. Sebenarnya Gunung Usung bukanlah sebuah gunung, hanya sebuah bukit. Namun masyarakat di Kalteng lebih terbiasa menyebut “Gunung” bagi tonjolan kulit bumi yang tampak lebih tinggi dari sekitarnya. Begitu juga dengan tanjakan di jalan raya, ada nama masing masin seperti Gunung Ular atau Gunung tengkorak, padahal itu hanya sebuah tanjakan.
Gunung Usung
Terlepas dari semuanya mendaki bukit di sini bukan hal yang mudah karena selain terjal dan medannya yang berat. Kita memulai perjalanan dengan “Rasa-rasa”, mengira-ngira apakan ini jalan yang tepat, namun kita terus berjalan hingga sampai kepada sebuah tebing yang tampaknya tempat yang asik buat panjat tebing, namun ketika saya coba ternyata basah dan licin, mustahil untuk memanjatnya tampa pengaman.

Perjalanan menuju Puncak
 Dan benar saja hasil dari “Rasa-rasa” dari kita salah mengambil jalan hingga melalui harus berhadapan dengan jalan buntu dan harus menembus semak belukan untuk dapat melanjutkan perjalanan, onak duri menemanii perjalanan kita hingga kita menemukan jalan yang benar.
Untungnya jalan untuk menuju puncak sudah jelas karena tampaknya sudah sering di daki, namun di beberapa tempat kita harus merunduk untuk menghindari semak yang rapat, dan jalannya pun terus menanjak sampai saya kehabisan napas, ini akibat dari sekarang sudah tidak pernah olahraga lagi, fisik makin kendor.
Hanya ada satu Bonus di sini dan setelah ini perjalanan menjadi semakin terjal hingga 50 derajat, untuk naik kita harus berpegangan di rerumputan dan pohon yang jarang, panas yang menyengat juga membuat saya tambah kedodoran, namun semangat saya memaksa untuk melanjutkan perjalanan karena yang lain sudah sampai di atas, dan setelah beberapa kali menaris nafas dan beristirahat akhirnya sampai juga.
Tampak salah satu gundulnya hutan
Well, tak ada pohon di puncak, hanya ada semak yang lumayan tinggi untuk berlindung dan dari puncak kita bisa melihat pemandangan yang luas, kota Puruk Cahu yang kecil kelihatan makin kecil. Sungai Barito tampak seperti ular yang meliuk-liuk dan di pinggirnya tampak beberapa desa yang berada di wilayah Kabupaten Murung Raya.
Namun hati saya sedikit terenyuh ketika melihat hutan yang mulai gundul, banyak yang telah menjadi perkebunan karet bahkan beberapa tampak masih menjadi lahan kosong, dan untungnya dari sini tidak ada pemandangan tambang batu bara atau kebun Kelapa Sawit yang mulai banyak menggusur hutan Kalimantan.
Karena kesiangan kitapun harus rela berpanas-panasan di puncak, saya berencana untuk kembali lagi ke sini dan menginap sehingga bisa melihat matahari terbit serta berada di atas awan. Selain foto-foto tak banyak yang kita lakukan karena kurangnya persiapan, termasuk persiapan snack. Untungnya persediaan air minum kita cukup sampai turun kembali.
DI puncak
Pukul setengan 12 kita beranjak turun, tak lupa juga membawa botol bekas minuman aga tak menambah sampah plastic yang ada d sana. Namun perjalan turun lebih sulit Karena kita harus berjalan mundur sambil melihat kebelakang, bagi yang phobia ketinggian ini merupakan moment yang horor. Dan untuk turun kita harus berpegangan yang erat di rerumputan yang lumayan tajam sehingga mengoyak tangan beberapa orang. Ketika kita turun ada tiga orang anak yang seddang naik dan hanya membawa sebotol pocari, dan hasilnya mereka turun kembali tidak jadi ke puncak dan turun kembali.
Perjalan turun membuat tekanan 5 kali lipas di lutut dari pada berjalan biasa, sehingga lebih berasa daripada ketiga naik yang lebih banyak makan nafas. Dan lagi-lagi saya yang terakhir karena sambil foto-foto selain fisik mereka yang tampak lebih kuat, maklum paling tua..hehe
Turun pun harus merangkak
Setelah turun kita langsung menuju air terjun yang berada di kaki bukit, dulunya iar terjun yang tidak seberapa tinggi ini selalu ramai dikunjungi di akhir pecan, namun sejak ada kejadian seorang cewek yang dibunuh pacarnya tempat ini menjadi sepi. Kitapun langsung mandi dan menikmati pancaran air terjun yang debit airnya lebih sedikit dari pada waktu saya pertama kali kesini.
Air terjun Gunung Usung
Setelah puas dan perut yang mulai dangdutan kita pun segera berbelik arah menuju kota Tercinta dan sebelumnya mampir di warung untuk minum karena sudah kangen dengan es, saya juga memesan Mie rebus untuk mengganjal perut yang sudah keroncongan. Akhirnya setelah sampai di rumah istirahat dan merasakan kaki yang sedikit pegal, tapi lumayan untuk mengisi liburan akhir pekan. Dan masih banyak tempat eksotis di Murung Raya yang harus di jelajahi.
Untuk Foto-Foto yang lainnya bisa di klik di SINI.
Lanjutkan Baca - Gunung Usung, Mendaki Berbonus Air Terjun

Menyambut Tahun Baru Di Loksado

Tahun baru indentik dengan Kembang Api, tak terkecuali dengan tahun  2012. Di mana-mana sudah banyak orang yang berjualan kembang api di pinggir jalan. Namun kali ini saya sudah bosan karena setiap pergantian tahun langit selalu penuh oleh kembang api dan ingin mencari suasana yang berbeda. Loksado akhinya jadi pilihan untuk menghabiskan tahun 2012  dan ini rencana mendadak dan tanpa persiapan, namun hal itu tidak jadi masalah karena saya sudah sering ke Loksado.
Persiapan Balanting Paring

Perjalanan ke loksado kali ini saya bersama cewek  special, kekasih saya datang secara dadakan juga untuk merayakan pergantian tahun dan juga ini pertamakalinya tahun baruan bareng pacar.Dia datang dari Surabaya dengan penerbangan pertama jadi saya pagi-pagi sudah standby menunggu di Bandara.
Akhirnya ketemu lagi, maklum sekian tahun mejalani LDR jadi jarang ketemu dan lebih sering jalan bareng karena memang sama-sama hobi jalan. Keluar dari bandara kita terlebih dahulu mencari sarapan di depan Bandara Syamsuddin Noor sambil menunggu angkot, namun namanya angkot bandara di pagi hari sangat jarang ada yang lewat. Akhirnya ojek menjadi pilihan dengan tarif Rp. 5.000 kita diantar kedepan persimpangan walau rasanya agak menyesal juga karena tidak terlalu jauh kalau berjalan.
Dari persimpangan kita menunggu angkutan menuju Kota Kandangan. Sekedar informasi di Kalimantan Selatan tidak ada Bus antar kabupaten dan yang ada hanya antarProvinsi ke Kalteng dan Kaltim,  angkutan umum menuju kota-kota kabupaten seperti Martapura, Rantau, Kandangan, Barabai, Amuntai, Paringin dan Tanjung adalah sejenis Elf Colt L300 dan biasanya masyarakat menyebutnya dengan Taksi Kol. Ada beda penyebutan untuk Taksi yang biasa di kenal pakai Argo di sini di sebut taksi argo sedangkan untuk angkot sering disebut Taksi Kuning karena angkot di Banjarmasin umumnya berwarna kuning.
Peserta Bamboo Rafting
Untuk menuju Kandangan, Ibu Kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan kita bisa naik L300  jurusan Kota  Kandangan itu sendiri, namun juga bisa naik jurusan Kota Barabai, Amuntai atau Tanjung sebelum kota-kota tersebut terlebih dahulu melalui kota Kandangan. Tarif sampai Kota Kandangan adalah Rp. 30.000 minta diturunkan di terminal kota atau persimpangan menuju Loksado.
Setelahperjalanankuranglebih 3 jam akhirnya kami sampai di Kandangan, dari  terminal kita naik becak menuju lokasi mangkalnya angkot ke Loksado, namun ternyata sudah berangkat, yang ada hanya angkot arah loksado namun tidak sampai ke Desa Loksadonya. Akhirnya kita pun minum-minum di warung sambil berfikir dan setelah ngobrol-ngobrol ada bapak yang akan pulang ke Loksado dan kita diajak untuk ikut dengan mobilnya, Alhamdulillah…
Anak-anak Loksado
Perjalanan menuju Loksado menjadi Tak terasa dengan mobil Fortuna baru punya Abah Isur  yang kita tumpangi, ternyata beliau adalah kepala sekolah di Loksado, lulusan S2 di Universitas Airlangga di  Surabaya, sama seperti orang di samping saya namun dia Cuma S1 nya,  dan beliau adalah salah satu tokoh masyarakat dayak di Loksado.
Sampai di Loksado kami di turunkan di depan wisma langganan saya kalau sama tamukeLoksado, dan langsung beristirahat setelah seharian di Jalan. Sora harinya kita berjalan-jalan melihat persiapan acara Balanting Paring yang ternyata akan dilaksanakan besok hari, acara ini merupakan acara tahunan yang di adakan di akhir tahun, acaranya naik rakit bamboo atau yang juga disebut Bamboo Rafting di Loksado menuju kota Kandangan selama dua hari dan bermalam di rest poin yang telah ditentutukan oleh panitia. Setiap regu yang terdiri dari 3-4 orang berada dalam satu rakit dankita tidak perlu capek-capek mengendalikan rakit bamboo di derasnya aliran sungai Amandit karena dengan biaya pendaftaran Rp. 500.000 sudah lengkap rakit dengan Jokinya. Dan informasinya sebelum memasuki Kota Kandangan akan ada rombongan penganten yang di arak di atas rakit, saying sekali saya terlambat mendapatkan informasi ini.
Foto Keluarga :-)
Di pagi tanggal 31 Desember, hari terakhir di tahun 2011 tampak para peserta  “Balanting Paring” telah bersiap-siap, yang dekat di sekitar Kandangan datang dini hari tadi sedangkan yang dari jauh seperti Banjarmasin sudah datang kemaren sore dan tadi malam, sebagian dari mereka telah membagun tenda sejak kemaren. Ternyata Dillah dan Siti juga sudah datang kesini, jadi tambah teman buat bersantai di Loksado, siang hari nanti akan datang lagi Anas dengan tamunya dan tampaknya banyak anggota Banjarmasin Traveler yang ngumpul di Loksado.
Satu-persatu peserta “Balanting Paring” meninggalkan desa Loksado di atas Bambu yang di ikat menjadi satu. Jembatan Gantung yang banyak di Loksado merupakan tempat yang pas untuk melihat dan memotret acara tahunan ini, bahkan ada fotografer dengan gear fotografinya yang “wah” sampai naik keatas tiang jembatan untuk mencari angel yang tepat. Setelah semua peserta berangkat kitapun kembali ke Wisma Alya untuk mandi, karena sebelumnya keluar tanpa mandi terlebih dahulu..:-), maklum pagi di loksado dinginnya minta ampun.
Kayu Manis
Dengan berjalan kaki kita menuju desa Malaris, sekitar 15 menit dari Desa Loksado, di sini ada rumah panjang atau yang disebut “Balai” dan hanya digunakan ketika ada upacara adat seperti Aruh ganal yang biasanya dilaksanakan tiga kali dalam satu tahun. Untuk masuk desa Malaris dikenakan biaya masuk Rp. 2.000, di Pondok Informasi telah menunggu Dillah dengan Siti serta beberapa penduduk desa, setelah ngobrol-ngobrol sebentar kita berdua melanjutkan perjalanan menuju Air Malaris, namun di tengah perjalanan saya melihat seorang bapak yang sedang menebang pohon dan ternyata yang ditebang itu adalah pohon kayu manis yang sudah dikuliti, di dalam pondok tampak istrinya yang sedang mengikis lapisan kulit luar kayu manis tadi untuk dibuat seperti kayu manis yang sampai ke tangan kita sekarang dengan dijemur terlebih dahulu sebelumnya. 
Proses pembuatan Kayu Manis
Desa Malaris merupakan kayu manis di Kalimantan Selatan, bahkan berkat kerjasama dengan LSM sekarang kayu manis sudah diproduksi dalam bentuk sirup, yangdijual dengan harga Rp. 15.000 perbotol dan rasanya memang manis seperti kayu manis.
Untuk menuju air terjun kita cukup mengikuti jalan setapak kemudian menyebrang mengikuti Jembatan gantung, nah setlahjembatan gantung ada tiga pilihan jalan jembatan gantung ada tiga pilihan jalan yaitu lurus menuju desa-desa yang ada di dalam dan ke kiri kea rah bendungan kecil dan yang kea rah kananlah yang menuju air terjun.  Jalannyapun sudah disemen dengan rapi, namun tidak sampai ke air terjunnya dan untuk melanjutkan perjalan kita harus berjalan di pinggir sungai melewati semak belukar yang lumayan licin ketika hujan. Air terjun ini  tidak setinggi air terjun Haratai, namun mempunyai sungai yang lebar dan pas untuk mandi sambil berendam.
Air Terjun Malaris
Selepas dari air terjun kitapun kembali ke Pondok informasi dan bersantai sambil rebahan di hari yang panas. Namun ide dari dari untuk untuk ke kebun buah membuat kita berngkat lagi, namun kali ini kita naik motor dengan pemuda desa di sana. Walaupun agak terlambat karena musim buah sudah hamper berakhir namun kita masih bisa menikmati sisanya. Yang masih tersisa benyak adalah buah Manggis, sedangkan buah Durian dan Cempedak tinggal kulitnya saja yang bergelimpangan di tanah walaupun ada nemu satu buah durian yang sebagian sudah dimakan binatang.
Kita kembali ke desa dengan jas hujan yang penuh dengan buah manggis, ditambah lagi dengan buah rambutan yang tinggal petik di seberang pondok informasi lengkaplah sudah menu pasta buah kita hari ini. Tak lama datangan seorang bula yang ingin menginap di pundok ini, ya Pondok Informasi di desa Malaris ini memang terbuka bagi backpacker yang ingin beristirahat dan tentunya dengan fasilitas yang seadanya, kitapun tidak dipungut bayaran hanya keikhlasan  kita saja.
Menembus derasnya Sungai amandit
Perut yang mulai keroncongan memaksa kita untuk kembalike desa Loksado untuk mencari makan karena di sini memang tidak ada yang menjual nasi. Dengan meminjam motor mereka kita berangkat, namun ketika di desa Loksado kita melihat anak-anak yang sedang asyik menghanyutkan diri di sungai dengan ban dalam bekas atau sering disebut dengan Donat Boat / tubing dan kita pun tertarik, setelah mengembalikan motor sayapun meminjam Ban Dalam yang agak besar di teman-teman Amandir Rafting.
Makan pertama di tahun 2012
Sebenarnya saya agak khawatir karena Lilik tidak bisa berenang, namun bermodalkan kenekatan akhirnyapun kita menceburkan diri dengan satu Ban yang agak besar dan cukup untuk dua orang, sesasi mengikuti arus dengan Donat Boat cukup memacu adrenalin, Karena kita hanya bisa mengikuti arus tanpa bisa mgendalikannya seperti Rafting dengan Perahu karet. Yang paling capek adalah pulangnya kita harus jalan kaki dari hilir sungai dan akhirnya kita hanya dua kali putaran karena selain capek jalan kaki pulangnya hari juga sudah semakin gelap.
Anas dan rombongan juga telah tiba di Loksado, dan malamnya kita kumpul di Base Camp amandit Rafting, operator rafting modern yang ada di Loksado. Kita ngobrol-ngobrol dengan pemiliknya dan bagaimana harapannya untuk pemngembangan wisata di Loksado kedepannya.
Tak ada petasan dan kembang api, hanya ada api unggun yang agak basah karena hujan sehingga membutuhkan bantuan minyak untuk menghidupkannya, setelah itu kita makan bersama untuk pertama kalinya di tahun 2012 yang diawali dengan pembacaan doa untuk kelancaran usaha yang baru dirintis ini. Tak lama hujan turun begitu derasnya sehingga kita tidak bisa pulang dan akhirnya merebahkan di disana hingga pukul dua kita terbangun karena tetangga ddi hotel seberang mau pulang, dan kitapun akhirnya ikut pulang juga.
Rafting Time
Hari terakhir di Loksado adalah Rafting Time. Dengan dua rakit berbarengan dengan Anas dan rombongan yaitu keluarganya Kak Yeni dari sampit. Karena berbarengan dengan musim hujan jadi arus sungai Amandit lumayan deras, sehingga kita berkali-kali terpercik oleh air ketika melewati arus yang deras, mendengar teriakan Raka dan Rafa dapat daya bayangkan betapa senangnya mereka. Untungnya dua rakit beriringan seperti ini adalah kita bisa saling memoto sehingga kita leluasa mengambil foto teman kita atau kita yang menjadi modelnya. Kurang lebih tiga jam akhirnya kita tiba di tempat tujuan.
Kita harus menunggu baju kita yang dititipkan di mobil mereka, dan walaupun pertamanya Cuma ingin menumpang ke Kota Kandangan Alhamdulillah kita diajak untuk sampai di Banjarmasin, dan di kota Kandangan kita di traktir untuk Makan masakan Banjar, ternyata setelah di Banjarbaru kita di ajak makan Lagi walau sebenarnya perut masih kenyang. Sesampainya di Banjarmasin kita mengucapkan Terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas bantuan Kak Yani dan Keluarga dan beristirahat.
Thanks to :
Allah SWT, Lilik, Pakapau, Fauzi / Abah Isur, Pak Sadri, Dillah, Siti, Anas, Kel. Kak Yeni, Teman-teman di Malaris dan Aamandit Rafting crew dan teman-teman di yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu.
Lanjutkan Baca - Menyambut Tahun Baru Di Loksado